Ketidak Percayaan Peranan Koperasi Tani Pangalengan, Dikupas Tuntas Para Insinyur Dan Praktisi Pertanian

tugasbangsanews.com

Acara Pertemuan dan Diskusi yang diprakarsai Ir. YUDI SW (Pengamat Pertanian), dengan mengundang Tokoh LH Dadang Majid, Penggiat Kopi Ir. Burhan, Pakar Yayasan dan Paguyuban Iwan Mulyana, Pengamat Publik Kang Iyep dan Komariah SE, juga Tim Media turun meliputnya.

Berlangsung di Toko Kopi Pangalengan, satu Cafe Coffee terkenal di dekat Alun alun Pangalengan, Kab. Bandung Jawa Barat, Senin sore 16/11/2020.

Sebagai Pemerhati sekaligus Pengamat Pertanian, Ir. Yudi SW yang didampingi Ir. Burhan (Petani Kopi), menawarkan peserta diskusi, untuk membuka cakrawala berpikir, akan pentingnya keberadaan sebuah wadah “Lembaga Usaha” bagi para petani dan pengusaha kopi Pangalengan.

Ir. Yudi SW dalam paparannya mengatakan,
“Sudah hampir setahun lebih, saya melakukan riset lapangan, terkait potensi secara benefit kegiatan usaha tentang kopi, dari hulu ke hilir, mulai dari kegiatan Petani kopi, Pengepul cheri, Bandar, Penjual, Cafe hingga exporting biji kopi” ungkap Ir. Yudi SW diawal.

“Selama ini hasil temuan analisa data sebagai praktisi dan penggiat tani kopi, ternyata komoditas Kopi Pangalengan ini, baik pemasaran di tingkat lokal sampai ke luar negeri, secara finansial usaha dinilai cukup besar dan berpotensi” ungkap dia.

“Namun dilihat dari sudut petaninya, perlu ada upaya dan langkah tertata, yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani” paparnya.

“Secara kenyataan analisa grafik input output manajemen finansial usaha, miris ternyata, para petani kopi berada pada keuntungan terendah, dan terpatok 6 bulan dalam setahun, beda dengan Pengusaha dibagian hilir, mereka bisa jualan kopi setiap hari” paparan analisanya.

“Hal ini utama diperlukan solusi adanya lembaga yang serius menangani, agar petani kopi dengan segala keterbatasan SDM dan kemampuannya secara materi, bisa dibantu untuk keluar dari sistem Ekploitasi pemain kopi, yang bermodal besar” ujar Burhan menimpali.

“Mudah mudahan, kehadiran teman teman di Forum Diskusi ini, sedikitnya memberi sumbangsih saran, masukan dan usulan Konsep Usaha yang kami tawarkan” jelasnya.

Sementara Ir. Burhan menyatakan,
“Diperlukannya Gerbong Kereta Usaha, sebagai wadah petani kopi Pangalengan, melaju untuk mampu mandiri, tak lagi mereka jadi “PENONTON” dari kaum Kapitalis kopi yang menikmati untung besarnya bisnis kopi selama ini” kata Burhan.

Ketika Tim Media bertanya, bentuk Lembaga usaha seperti apakah yang paling layak dibuat, dalam membantu para Petani Kopi Pangalengan untuk mandiri dan tertata baik?

Secara bersamaan, peserta diskusi menjawab, “Lembaga Usaha Koperasi Peduli Petani Kopi Pangalengan yang methodenya berpihak pada kaum petani bukan sekedar Koperasi simpan pinjam, lembaga usaha Koperasi inilah yang dinilai paling pas dibutuhkan petani”, jawab mereka.

Dilain pihak, baik Kang Iyep, Iwan Mulyana, Dadang Majid dan Komariah SE dalam tanggapan diskusinya mengatakan hal senada.

“Adanya Dis trust/ ketidak percayaan masyarakat petani, pada peran Koperasi selama ini, perlu dikupas tuntas akar masalahnya, lalu dibuatkan rancangan methode Koperasi yang beda, buatlah yang duduk dipengurusan hariannya secara profesi ahlinya, jangan lagi dari sudut ketokohannya melulu” usul mereka.

“Juga mohon segera Konsep matang Koperasinya dibuatkan, baik secara management input output dan analisa potensi, baik peluang, kendala hingga solusinya agar dirumuskan dan dilaksanakan” ucap mereka menambahkan.

Hal terpenting dicatat oleh Tim Media, bahwasanya Konsep untuk segera membuat sebuah Koperasi Sekunder, yang mewadahi Koperasi Koperasi Primer di tiap desa, mendapat “SUPPORT” tanda setuju, untuk segera dilaksanakan, hal tersebut disepakati bersama oleh peserta diskusi.

Perlu diketahui, dalam bahasan isi diskusi, terungkap catatan bahwa, di wilayah pegunungan Pangalengan, telah tertanam pohon kopi di lahan seluas puluhan ribu hektar, dan berpotensi besar tersebar di 13 LMDH Desa, seperti di Puncak Gede, Malabar, Gunung Tilu, Rahong, Pulosari, Lamajang dan wilayah lainnya

Reporter : (Yudika)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *