Cerita Miris Siswa Keluarga Tak Mampu ditengah Sistem Belajar Daring

Photo : Ibunda Deni Mulyadi, saat ditemui pihak sekolah Mathla’ul Anwar dirumahnya yang tidak layak huni dan berdiri di lahan milik salah satu perusahaan properti terkenal.

RUMPIN — Kisah miris yang dialami Deni Mulyadi (14 tahun) siswa kelas 10 Madrasah Aliyah (MA) Mathla’ul Anwar Desa Sukasari Kecamatan Rumpin, terus menjadi sebuah perbincangan hangat. Dari berbagai keterangan yang dihimpun media ini, Deni yang tinggal di rumah tidak layak bersama Ibu dan neneknya tersebut, memang hidup dalam kondisi penuh kesulitan.

Namun, ibu Deni yang berstatus janda tua itu, tetap berusaha menyekolahkan anaknya mulai dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah (setara SD) dan Madrasah Tsanawiyah (setara SMP) hingga saat ini mulai masuk tingkat Madrasah Aliyah (setara SMA). Semua tingkatan pendidikan Deni, dilakukan di sebuah lembaga pendidikan bernama Yayasan Mathla’ul Anwar yang berada di Kampung Barengkok, Desa Sukasari Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor.

Melihat kondisi tersebut, beberapa remaja Rumpin yang merupakan alumni SMA Negeri 1 Rumpin dan alumni sekolah Mathla’ul Anwar, tergerak hati dan kepedulian sosialnya untuk membantu Deni serta keluarganya. Lalu pada awal bulan Juni 2020, mereka pun melakukan kunjungan dan mengumpulkan donasi untuk membantu rehab rumah Deni. “Saat itu kami langsung membantu biaya rehab rumah, meski hanya sesuai kemampuan yang kami miliki. Selanjutnya, ada lembaga sosial dari Depok ikut terjun membantu Deni.” Ungkap Widdie salah seorang remaja pegiat sosial, Selasa (11/8/2020).

Kondisi ekonomi keluarga Deni yang memprihatinkan, termasuk kondisi rumahnya yang tidak layak huni dan berada di tanah milik perusahaan properti terkenal, diungkapkan pula oleh salah seorang guru di sekolah Mathla’ul Anwar bernama Asep Badrudin. Menurut mantan Wakil Kepala Sekolah MA Mathla’ul Anwar Bidang Kesiswaan ini, kondisi Deni dan keluarganya selalu menjadi perhatian pihak sekolah baik secara kelembagaan maupun individu melalui dewan guru.

Asep menjelaskan, bentuk perhatian dan bantuan dari lembaga pendidikan yayasan Mathla’ul Anwar diantaranya telah membebaskan biaya sekolah serta membantu kebutuhan Deni lainnya seperti seragam bahkan hingga diberikan uang saku. “Dewan Guru juga banyak yang membantu secara pribadi sesuai kemampuannya masing-masing. Bahkan ada juga yang memberikan sepeda untuk transportasi Deni bersekolah,” ungkap Asep, sapaannya.

Dia menambahkan, namun bantuan dari pihak sekolah dan yayasan yang diberikan kepada Deni tidak akan mencukupi kebutuhannya secara keseluruhan. Pasalnya, sambung Asep, perhatian mereka bukan hanya untuk Deni, tetapi juga untuk puluhan siswa/i lainnya yang kondisi kehidupan ekonomi nya hampir sama seperti Deni.

Terkait metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar daring pada masa pandemik covid 19 yang harus dilakukan setiap lembaga pendidikan/sekolah sebagai sebuah kebijakan dan arahan pemerintah, Asep mengungkapkan bahwa, pihak Yayasan Mathla’ul Anwar telah menyesuaikan penerapan metode sistem pembelajaran tersebut dengan kemampuan siswa dengan mempertimbangkan segala faktor seperti ekonomi, daya serap, maupun psikologis siswa. “Tak jarang siswa minder bahkan malu dengan temannya akibat penerapan belajar yang belum pernah mereka lakukan melalui handphone. Hal itu dapat dimaklumi karena mereka sebelumnya tidak pernah belajar dengan menggunakan alat canggih tersebut,” bebernya.

Namun dalam kondisi seperti itu, lanjut Asep, pihak sekolah juga telah melakukan strategi pembelajaran khusus yang berbeda-beda. Seperti, gru mendatangi langsung ke rumah siswa, membentuk kelompok belajar yang hanya beberapa orang yang rumahnya berdekatan, atau dipersilahkan siswa bertemu gurunya langsung di sekolah untuk diberikan bimbingan di kelas. “Siswa dan siswi dapat memilih cara yang paling sesuai dengan kondisi mereka masing-masing,” imbuhnya.

Pria yang saat ini menjabat Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan di MTS Mathla’ul Anwar ini berharap, viralnya sosok Deni Mulyadi akan menjadi sebuah pembelajaran dan mengandung hikmah bahwa masih banyak siswa/siswi dari keluarga tidak mampu yang membutuhkan perhatian, kepedulian dan bantuan. “Deni bukanlah satu-satunya yang membutuhkan perhatian dan kepedulian. Masih banyak siswa – siswi lain dari keluarga tidak mampu yang memiliki kisah hampir sama dan perlu dicarikan solusi.” Pungkasnya. (Sto/rie)

5 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *