BALITBANGTAN Klaim Produk Susu Beras Fortifikasi Teknologi Tepat Guna Murah Dan Bergizi

BOGOR — Badan Penelitian Pengembangan Pertanian (BALITBANGTAN) ungkap sebuah Teknologi Tepat Guna berupa Susu Beras Fortifikasi dalam acara “Mentan Menyapa Peneliti, Penyuluh Balitbangtan” yang digelar secara virtual di Kampus Balitbangtan Cimanggu, Jum’at (03/07/2020).

Teknologi Tepat Guna berupa
Susu Beras Fortifikasi yang berbahan baku Beras patah dan menir yang diproses dengan
ditambahkan protein nabati dan ekstrak sayuran tersebut diklaim merupakan produk tepat guna yang sangat bermanfaat karena kaya akan nutrisi.

Produk olahan inipun menjadi salah satu alternatif pengolahan beras patah dan menir yang pada dasarnya kwalitasnya sama dengan beras kepala.

Menteri Pertanian Dr. Syahrul Yasin Limpo, S.H., M.H. yang hadir dalam kegiatan tersebut, dalam kata sambutannya
berharap kepada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian agar mampu membuat terobosan-terobosan teknologi dan inovasi pertanian melalui riset-riset yang dilakukan.

Mentan Yasin Limpo juga berharap kegiatan hasil riset Badan Litbang Pertanian harus dapat dimanfaatkan oleh petani dalam rangka peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. Varietas Unggul Baru tanaman yang dihasilkan harus mempunyai keunggulan dari varietas yang sudah ada baik dari sisi produktivitasnya maupun ketahanan terhadap hama dan penyakit serta tahan terhadap cekaman iklim.

“Teknlogi dan inovasi yang dihasilkan harus mampu meningkatkan produktivitas, nilai tambah dan daya saing produk pertanian serta menurunkan input biaya usaha tani,” ujar Yasin Limpo.

Lebih lanjut Mentan mengatakan, dalam masa transisi New Normal saat ini, Saya menekankan bahwa Kementerian Pertanian terus berupaya melakukan peningkatan ketersediaan pangan dengan bertumpu pada 4 (Empat) Cara Bertindak (CB) yaitu:
Cara bertindak (CB) pertama yaitu peningkatan produksi pertanian. Kementerian Pertanian akan melakukan percepatan padi pada masa tanam (MT) II 2020 seluas 5,6 juta hektare, serta pengembangan lahan rawa di Kalimantan Tengah seluas 164.598 ha.

CB 2 berupa diversifikasi pangan berbasis kearifan lokal yang fokus pada satu komoditas utama. Termasuk pemanfaatan pangan lokal secara masif seperti ubi kayu, jagung, sagu, pisang, kentang dan sorgum. Selain itu, pemanfaatan lahan pekarangan dan marjinal melalui program pekarangan pangan lestari (P2L) untuk 3.876 kelompok.
Strategi pangan CB3 berupa penguatan cadangan dan sistem logistik pangan.

“Garis besarnya ialah penguatan cadangan beras pemerintah provinsi hingga ke level terkecil di desa. CB4 berupa pengembangan pertanian modern. Mulai dari pengembangan smart farming hingga screen house untuk meningkatkan produksi komoditas hortikultura di luar musim tanam,” kata Yasin.

“Dalam kesempatan ini, Saya mengharapkan seluruh keluarga besar Badan Penelitian dan Pengembangan all out mendukung empat Cara Bertindak tersebut dalam setiap kegiatan penelitian, perekayasaan dan diseminasi dalam rangka peningkatan ketersediaan pangan,” Pungkasnya.

Untuk diketahui, berdasarkan hasil penelitian Balitbangtan, susu beras fortifikasi tersebut di nyatakan tidak mengandung laktosa. Oleh karena itu dapat dijadikan pengganti susu sapi bagi penderita lactose-intolerant, selain itu juga susu beras bebas kolesterol dan memiliki efek mengenyangkan sehingga baik bagi konsumen yang menjalani program penurunan berat badan.

Susu beras fortifikasi ini bisa jadi salah satu pilihan bagi kaum vegan atau yang tidak memakan makanan yang bersumber dari hewani, karena kandungan nutrisi susu beras fortifikasi yang mengandung vitamin, mineral, dan asam lemak tak jenuh yang sangat baik bagi kesehatan.

“Dengan kandungan asam folat yang sangat tinggi yaitu 599 µg yang mencukupi 150% AKG (angka kecukupan gizi) dalam tiap penyajian (250 mL), susu beras fortifikasi sangat baik sebagai sumber nutrisi ibu hamil dan menyusui serta nutrisi bagi balita,” ungkap Dr. Fadjry Djufry Kepala Balitbangtan Cimanggu.

Asam folat tidak dapat dibentuk oleh tubuh oleh karena itu diperlukan asupan yang berasal dari makanan atau suplemen dari luar tubuh. Asam folat berperan dalam pembentukan sel-sel otak, meningkatkan fungsi sistem syaraf, mencegah anemia pada ibu hamil, mencegah cacat lahir, berperan dalam pembentukan sel darah merah dan pertumbuhan anak, memperlambat penuaan dini dan lain sebagainya.

Selain itu susu beras fortifikasi mengandung vitamin B2 (Riboflavin) sebanyak 600 µg yang mencukupi 37,5% AKG dalam tiap penyajiannya. Riboflavin sangat penting untuk mencegah pre-eklampsia pada ibu hamil, mencegah anemia, mencegah penyumbatan darah, mempertahan kadar kolagen sehingga meminimalkan kerutan pada kulit, serta banyak manfaat lainnya.

“Susu beras fortifikasi yang dibuat dari beras hitam memiliki aktivitas antioksidannya mencapai 773% lebih tinggi dibandingkan dengan susu kambing. Zat antioksidan dari beras hitam ataupun merah berperan sebagai anti inflamasi, anti hipertensi, mencegah beberapa jenis kanker seperti kanker kolon, payudara, paru-paru, dan hati. Bahkan zat antioksidan dari beras hitam dapat mengurangi resiko penyakit jantung, diabetes tipe II, dan obesitas,” beber Fadjry.

Fadjry menambahkan, apabila dibandingkan dengan susu beras impor yang beredar di Indonesia yang berasal dari negara Australia dan Korea, susu beras fortifikasi memiliki mutu rasa yang jauh lebih tinggi berdasarkan penilaian responden. DItambah lagi mutu nutrisi susu beras fortifikasi juga jauh lebih tinggi dan beragam dibandingkan dengan susu beras impor tersebut, imbuhnya.

Susu beras fortifikasi: teknologi tepat guna yang murah
Susu beras fortifikasi memiliki potensi sebagai minuman fungsional (memberi efek kesehatan). Teknologi pengolahan susu beras fortifikasi telah siap diadopsi oleh UKM (Usaha Kecil dan Menengah) dengan modal usaha relative kecil. Teknologi tepat guna merupakan pilihan teknologi dan aplikasinya yang memiliki karakteristik terdesentralisasi, berskala kecil, hemat energi, padat karya, dan berkaitan erat dengan kondisi lokal.

“Teknologi ini dirancang untuk masyarakat tertentu sesuai dengan aspek lingkungan, keetnisan, budaya, sosial, politik, dan ekonomi masyarakat yang bersangkutan. Peningkatan nilai ekonomi beras patah menjadi susu beras fortifikasi dengan teknologi tepat guna merupakan pilihan tepat, agar masyarakat dapat menerapkan dan mendapatkan manfaat dari teknologi yang telah ada,” Tukas Dr. Fadjry. (Sto)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *