Kota Bogor, Kota Pilot Projects Anti Stunting

KOTA BOGOR — Hasil Evaluasi Balitbang dalam Pengembangan Laboratorium Lapangan Percepatan Penurunan Stunting yg diinisiasi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Kota Bogor masuk salah satu katagori yang berhasil melaksanakan Stunting.

“Kami ingin membangun kemitraan dengan Pemerintah Kota Bogor. Ada dua tahapan secara komitmen dengan MoU dan secara operasional yakni laboratoriumnya,” ujar Kepala Balitbang Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Siswanto, Sabtu (22/2/2020).
Siswanto mengata -kan, sebelumnya Balitbang Kesehatan sudah melakukan kegiatan studi kohort tumbuh kembang anak di Kecamatan Bogor Tengah. Pihaknya melihat tumbuh kembang sejak dari kehamilan sampai balita. Hasil studi kohort ini menjadi modal untuk mengembangkan laboratorium ini.
“Dari hasil studi kami punya data status gizi balita Kota Bogor 18,3 persen yang artinya 2 dari 10 balita mengalami stunting. Angka ini jauh lebih baik dari angka nasional yang masih 3 dari 10 bayi mengalami stunting,” katanya.
Meski begitu, lanjutnya, angka stunting ini masih harus terus diminimalkan mengingat stunting ini menjadi komitmen tertinggi Presiden, Bupati/Wali Kota. Hal ini tentu harus didukung di tingkat operasional -nya yakni posyandu. Lab Lapangan ini diharapkan dapat menjadi model operasional penurunan stunting yg mengintegrasikan semua sektor.
“Di Kota Bogor juga kan sudah ada gerakan (Tales) Tanggap Leungitkeun Stunting) di Kota Bogor kita kolaborasikan. Saya yakin bisa jadi kegiatan yg lebih tajam, tepat dan terukur. Dan kalau Kota Bogor berhasil bakal jadi contoh daerah lain,” katanya.
Plt. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor Sri Nowo Retno mengatakan, terkait laboratorium pihaknya belum mengetahui secara detail, hanya saja memang ada kesepakatan Litbang Kemenkes dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor tentang percepatan penurunan stunting.
“Jadi kami sinergi untuk kegiatan yg sama atau ada kegiatan baru yang detailkan lebih lanjut,” ujarnya.
Ia menerangkan, data stunting Kota Bogor pada 2019 berdasar – kan data by name by address berada di angka 4,52 persen atau dari 100 ribu bayi sekitar 4,5 ribunya bayi stunting. Angka ini relatif lebih rendah karena Kota Bogor tidak masuk di locus stunting. Pihak – nya akan melakukan intervensi stunting dengan cara spesifik, yakni memberikan layanan kesehatan dari mulai remaja, Calon Pengantin (Catin), Ibu Hamil, Ibu Menyusui, Bayi dan Balita.
“Kalau fokus di 1000 hari kehidupan terhitung dari mulai hamil walau masih banyak orang yang telat tahunya. Sebaiknya belum hamil atau merencanakan hamil harus makan yg sehat, gizi seimbang, lakukan isi piringku, kalori cukup, jenis beragam dan micronutrient vitamin dan mineral yang ada di sayur dan buah,” jelasnya.

Ia menambahkan, Pemkot Bogor saat ini fokus pada kesehatan ibu hamil sebagai awal terjadinya stunting. Mengingat faktor stunting yang rumit karena tidak hanya faktor kesehatan saja tetapi juga bisa dari faktor ekonomi, lingkungan, pengetahuan ibu memilih makanan dan lainnya. Sehingga perlu kepedulian dari semua pihak tidak hanya Pemerintah Kota tapi juga masyarakat juga.
“Harapan kami lima tahun kedepan bisa menghilangkan stunting atau harus nol dan ini bisa terwujud jika tidak ada kasus stunting baru,” pungkasnya (sto)

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *