Pemindahan Ibukota Jabar Tak Populis

Bogor– Aktivis 98 Martinus Nussah menilai, langkah kebijakan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil (Emil), atas pemindahan ibukota Jabar, Bandung ke daerah lain, tak populis lagi.

“Gubernur sepertinya tengah mempertontonkan gaya “latah”, kata Aktivis 98, Martinus Nussah pada wartawan di Lobby hotel Salak Bogor usai sholat Jumat (30/8).

Sikap itu tutur Martinus, dinilai tak disebut wach karena terkesan ikut ikutan ala Jokowi. Mestinya, Emil mendorong percepatan ekonomi, adu program atau gagasan dan tawarkan program hebat pro rakyat pada masyarakat Jawa Barat. Bukan ikutan politik latah,” kata Martinus.

Pemindahan ibukota Jabar, tak hanya menyedot dana besar, belum tentu terselesaikan dalam waktu cepat. Bisa menyedot anggaran lain untuk itu.

“Kalau semua mengandalkan dana APBN, dampak ikutan dapat meluas tak hindari”, papar Martinus tanpa memperinci.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dalam keterangan sebelumnya, menuturkan alasan pemindahan ini tak berbeda dengan pemindahan ibu kota negara Jakarta ke Kaltim. Dikatakan, Kota Bandung sudah tidak ideal lagi menjadi pusat pemerintahan Jabar.

“Pada dasarnya secara fisik Kota Bandung sama seperti Jakarta, sudah tidak cocok lagi melayani pusat pemerintahan.

Emil mengatakan, rencananya pemindahan ibu kota akan dikaji dalam enam bulan ke depan. Ada beberapa aspek yang dipertimbangkan di antaranya risiko bencana, aksesibilitas, tingkat ekonomi, hingga ketersediaan air.

“Kajian dilaksanakan 6 bulan ke depan. Semua kemungkinan butuh kajian, minim risiko, aksesibilitas, tingkat ekonomi, ketersediaan air dan lainnya,” ujar Emil. (Den)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *