SatNarkoba Polres Bogor Gelar Konferensi Pers Terkait Pengungkapan Pabrik Extasy

Cibinong | Kabupaten Bogor —

Kepala Satuan Narkoba Polres Bogor AKP Andri Alam Wijaya S.H., S.I.K., menggelar Konferensi Pers terkait dua kasus, yang pertama yaitu kasus pengungkapan pabrik (home industri) yang beralamat di Kelurahan Sukahati Kecamatan Cibinong – Kabupaten Bogor dan tersebar juga di wilayah Jabodetabek. Home Industri  yang memproduksi Extasy dengan menggunakan mesin canggih yang hanya bisa dipesan dari luar negeri tersebut, mampu memproduksi sekitar 500 butir pil Extasy dalam satu hari.

Berdasakan hasil test  terhadap barang extasy ditemukan campuran bahan-bahan kimia seperti salah Amfetamin Metamfetamin, bahan kimia shabu dan ada beberapa cairan lain serta campuran obat-obatan warung, terang AKP Andri.

Adapun tujuan ditambahkan nya obat-obatan warung oleh para tersangka ini, untuk membuat pola dari barang tersebut menjadi terlihat padat, dari hasil lab juga didapati ekstrak kopi (kandungan kafein). Menurut pengakuan dari para tersangka produksi ekstasi home industri ini sudah berlangsung selama satu bulan lamanya.

Para tersangka ini memiliki perannya  masing-masing,  ada yang berperan sebagai bagian produksi ekstasi ada yang sebagai pemesan barang dari luar negeri untuk pembuatan mesinnya dan juga ada mereka yang sebagai pembuat dan ada juga ada yang bertugas untuk memasarkan barang haram tersebut.

“Modus yang dilakukan oleh para tersangka yaitu mereka membuat atau memproduksi Inex / Ekstasi kemudian diedarkan”

Efek penggunaan dari ekstasi home industri ini sangat fatal dan bersifat menghancurkan, karena para tersangka membuat barang haram tersebut tidak memiliki dasar atau bukan ahli di bidang apoteker, para tersangka ini ternyata bisa membuat Extasy karena belajar dengan cara otodidak.

“Dulu kita beranggapan yang berhubungan dengan ekstraksi itu berhubungan dengan tempat hiburan ternyata sekarang faktanya tidak, artinya narkoba bisa digunakan oleh siapa saja dan dimana saja Ketika seseorang sudah menggunakan narkoba maka otomatis akan terjadi efek adiksi atau ketergantungan dan itu yang akan menghancurkan”, ujar AKP Andri.

Atas perbuatan nya tersebut  para pelaku akam dijerat dengan pasal 114 ayat 2, 112 ayat 2 dan 113 karena memproduksi dan mengedarkan sehingga ancaman hukumannya cukup berat antara 20 tahun hingga hukuman penjara seumur hidup.

Lebih lanjut Kasat AKP Andri juga menambahkan selain pengungkapan kasus pabrik Extasy home industri tersebut, dari rangkaian selama kurang lebih 1 bulan dari tanggal 19 Juni sampai 19 Juli 2019 Sat Narkoba Polres Bogor juga telah melakukan upaya-upaya untuk memutus jaringan narkoba yang selama ini menjadi pengedar di wilayah Kabupaten Bogor.

“Total ada 40 kasus yag berhasil kita ungkap dan menangkap 54 tersangka dengan berbagai barang bukti kejahatan  yang berhasil disita diantaranya Jenis Sabu sebanyak 132 (seratus tiga puluh dua) gram dan Jenis Ganja sebanyak 8 (delapan) Kg. Para tersangka dan barang bukti kini sudah kita amankan di Sat Narkoba Polres Bogor guna proses lidik dan sidik tuntas”, imbuhnya.

Terhadap para 54 tersangka kasus narkoba lainnya tersebut mereka dikenakan pasal pengedar pasal 114 , 112 (1)(2), 111 (1) (2), UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman pidana penjara 5 tahun maksimal 15 atau penjara seumur hidup dan pidana denda minimal Rp. 1.000.000.000,- maksimal Rp. 10.000.000.000,- tukas AKP Andri. (sto/hpb)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *